Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat sering kali digambarkan sebagai salah satu permusuhan paling sengit di panggung geopolitik modern. Namun, kebencian ini bukanlah fenomena alamiah yang muncul tanpa sebab; ia adalah hasil dari akumulasi luka sejarah, pengkhianatan politik, dan benturan ideologi selama puluhan tahun.
Intervensi 1953: Penghancuran Demokrasi Iran
Pada awal 1950-an, Iran adalah negara dengan semangat nasionalisme yang tinggi di bawah Perdana Menteri Mohammad Mossadegh. Masalah utamanya adalah minyak. Inggris mengontrol minyak Iran melalui Anglo-Iranian Oil Company (AIOC) dan memberikan bagi hasil yang sangat kecil bagi rakyat Iran.
-
Nasionalisasi Minyak: Mossadegh melakukan hal yang tak terbayangkan saat itu: menasionalisasi industri minyak. Ini membuat Inggris murka dan meminta bantuan Amerika.
-
Operasi Ajax (TP-AJAX): Awalnya, Presiden Truman enggan membantu Inggris. Namun, di bawah Presiden Eisenhower, CIA termakan narasi bahwa Iran bisa jatuh ke tangan Uni Soviet (Komunisme). CIA kemudian menyuap militer, politisi, dan preman bayaran untuk menciptakan kerusuhan massal di Teheran yang berujung pada penggulingan Mossadegh.
-
Luka Psikologis: Bagi rakyat Iran, ini adalah momen asli di mana mereka kehilangan kedaulatan. Amerika, yang sebelumnya dipandang sebagai model demokrasi, tiba-tiba terlihat sebagai kekuatan kolonial baru yang munafik.
Era Shah Pahlavi

Setelah Mossadegh dipenjara, Shah Pahlavi kembali berkuasa dengan dukungan absolut dari AS. Selama 25 tahun berikutnya, Iran menjadi sekutu terdekat AS di Timur Tengah, namun dengan harga yang mahal bagi rakyatnya sendiri.
-
Doktrin Nixon: AS menjadikan Iran sebagai “pilar” stabilitas di Teluk. Sebagai imbalannya, Shah diberikan akses tak terbatas pada persenjataan canggih AS.
-
Ketimpangan Sosial: Sementara elite di Teheran hidup mewah dengan gaya hidup Barat, masyarakat kelas bawah dan religius merasa terasing. Program “Revolusi Putih” Shah memang membangun infrastruktur, namun juga menghancurkan struktur sosial agraris dan meminggirkan peran ulama.
-
Kebrutalan SAVAK: Organisasi intelijen Iran, SAVAK, didirikan dengan bantuan CIA dan Mossad. Mereka memburu siapapun yang kritis terhadap Shah—mulai dari kelompok kiri, mahasiswa, hingga kelompok Islam—dengan metode penyiksaan yang sangat keji. Rakyat melihat Amerika berdiri tepat di belakang setiap tindakan penindasan Shah.
Revolusi Iran 1979

Ketika Revolusi Islam pecah, kemarahan rakyat tidak hanya tertuju pada Shah, tetapi juga pada “majikannya” di Washington.
-
Kepulangan Khomeini: Ayatollah Khomeini menggunakan retorika anti-imperialisme yang sangat kuat. Ia menjuluki Amerika Serikat sebagai “The Great Satan” (Setan Besar) dan Uni Soviet sebagai “Setan Kecil”. Istilah ini merujuk pada keyakinan bahwa AS adalah penggoda yang merusak moralitas bangsa dan penghisap kekayaan negara berkembang.
-
Pendudukan Kedutaan Besar: Penyerbuan kedutaan AS pada November 1979 bukan sekadar aksi kriminal, melainkan tindakan simbolis untuk memastikan “Operasi Ajax 1953” tidak terulang kembali. Para mahasiswa takut kehadiran Shah di AS untuk pengobatan adalah kedok bagi CIA untuk merencanakan kudeta baru.
Perang Iran-Irak: Pengkhianatan di Mata Teheran
Salah satu alasan terbesar mengapa kebencian Iran terhadap AS bersifat permanen adalah posisi AS selama Perang Iran-Irak (1980-1988).
-
Mendukung Saddam Hussein: Meskipun secara resmi netral, AS memberikan dukungan intelijen dan kredit ekonomi kepada Irak. AS tidak ingin revolusi Islam Iran menyebar ke negara-negara Teluk lainnya yang kaya minyak.
-
Tragedi Iran Air 655: Pada 3 Juli 1988, kapal perang USS Vincennes menembak jatuh pesawat sipil Iran Air di wilayah udara Iran, menewaskan seluruh 290 penumpang (termasuk 66 anak-anak). AS menyatakan itu adalah kesalahan identifikasi, namun mereka menolak meminta maaf secara resmi dan malah memberikan medali penghargaan kepada komandan kapal tersebut. Bagi Iran, ini adalah bukti bahwa nyawa orang Iran tidak berharga di mata Amerika.
Dinamika Pasca-Perang Dingin hingga Sekarang
Ketegangan tidak mereda setelah perang berakhir. Beberapa faktor tambahan memperparah situasi:
-
Poros Setan (Axis of Evil): Setelah serangan 11 September, meski Iran sempat membantu AS melawan Taliban di Afghanistan, Presiden George W. Bush malah memasukkan Iran ke dalam “Poros Setan” bersama Irak dan Korea Utara pada tahun 2002.
-
Isu Nuklir dan Sanksi: AS menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran bersikeras itu untuk tujuan damai. Sanksi ekonomi yang dipimpin AS selama puluhan tahun telah melumpuhkan ekonomi Iran dan menyengsarakan rakyat sipil, yang oleh pemerintah Iran disebut sebagai “terorisme ekonomi”.
-
Pembunuhan Qasem Soleimani (2020): Pembunuhan jenderal paling berpengaruh di Iran melalui serangan drone AS di Baghdad menjadi babak baru yang memastikan bahwa rekonsiliasi antara kedua negara hampir mustahil terjadi dalam waktu dekat.
Kesimpulan
Kebencian Iran terhadap Amerika Serikat bukanlah kebencian yang buta tanpa alasan. Ia berakar pada sejarah campur tangan politik yang dalam, dukungan terhadap kediktatoran, dan penderitaan ekonomi akibat sanksi. Di sisi lain, bagi Amerika, tindakan Iran yang mendukung kelompok militan regional dan retorika “Mampuslah Amerika” dipandang sebagai ancaman eksistensial terhadap kepentingan global mereka.







