Deklarasi Balfour adalah sebuah pernyataan singkat namun memiliki dampak geopolitik yang luar biasa besar. Surat yang hanya terdiri dari 67 kata ini menjadi dasar bagi berdirinya negara Israel dan memicu konflik yang belum usai hingga hari ini di tanah Palestina.
Apa Itu Deklarasi Balfour?
Deklarasi Balfour adalah surat resmi yang diterbitkan oleh pemerintah Inggris pada tanggal 2 November 1917. Surat ini ditandatangani oleh Sekretaris Luar Negeri Inggris, Arthur James Balfour.

Inggris mengirimkan surat tersebut kepada Lord Walter Rothschild, seorang tokoh kunci dalam komunitas Yahudi di Inggris. Melalui surat ini, Inggris secara terbuka menyatakan dukungan mereka terhadap gerakan Zionisme.
Latar Belakang Perang Dunia I

Untuk memahami alasan di balik deklarasi ini, kita harus melihat situasi Perang Dunia I. Pada tahun 1917, posisi Inggris dan sekutunya cukup terdesak. Ada beberapa faktor strategis yang memengaruhi keputusan Inggris:
-
Dukungan Amerika Serikat: Inggris berharap pengaruh tokoh-tokoh Yahudi di Amerika dapat mendorong AS untuk lebih terlibat dalam perang.
-
Kondisi di Rusia: Inggris ingin komunitas Yahudi di Rusia membantu menjaga agar Rusia tetap berperang dan tidak keluar dari aliansi.
-
Keamanan Terusan Suez: Inggris membutuhkan wilayah penyangga di Palestina untuk melindungi jalur pelayaran vital mereka menuju India melalui Terusan Suez.
Janji yang Saling Tumpang Tindih
Banyak kritikus menyebut kebijakan Inggris saat itu sebagai “Diplomasi Dua Muka”. Sebelum mengeluarkan Deklarasi Balfour, Inggris sebenarnya telah memberikan janji lain:
-
Korespondensi Hussein-McMahon (1915): Inggris menjanjikan kemerdekaan bagi bangsa Arab jika mereka membantu melawan Kekaisaran Utsmaniyah.
-
Perjanjian Sykes-Picot (1916): Perjanjian rahasia antara Inggris dan Prancis untuk membagi-bagi wilayah Timur Tengah menjadi zona pengaruh mereka.
Munculnya Deklarasi Balfour pada 1917 menciptakan kontradiksi besar. Inggris menjanjikan tanah yang sama kepada pihak Arab dan pihak Zionis dalam waktu yang hampir bersamaan.
Analisis Isi Deklarasi Balfour

Meskipun isinya sangat singkat, pilihan kata dalam deklarasi ini sangat diplomatis dan ambigu. Berikut adalah kutipan poin utamanya:
“Pemerintah Yang Mulia memandang baik pendirian sebuah kediaman nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina…”
Perhatikan penggunaan istilah “kediaman nasional” (national home), bukan “negara” (state). Hal ini dilakukan untuk menghindari kemarahan mendadak dari penduduk asli Arab. Selain itu, terdapat klausa perlindungan yang menyatakan bahwa hak-hak sipil dan agama komunitas non-Yahudi di Palestina tidak boleh dirugikan. Namun, dalam praktiknya, klausa ini sering terabaikan.
Dampak Setelah Perang Berakhir
Setelah Kekaisaran Utsmaniyah runtuh, Liga Bangsa-Bangsa memberikan Mandat Palestina kepada Inggris. Dengan adanya Deklarasi Balfour sebagai landasan hukum, Inggris memfasilitasi migrasi massal warga Yahudi dari Eropa ke Palestina.
Hal ini menyebabkan perubahan demografi yang sangat cepat. Ketegangan antara imigran baru dan penduduk asli Arab pun mulai meledak menjadi kerusuhan dan pemberontakan bersenjata pada tahun 1920-an dan 1930-an.
Kesimpulan: Warisan Sejarah yang Kontroversial
Deklarasi Balfour tetap menjadi salah satu dokumen paling diperdebatkan di dunia. Bagi gerakan Zionis, ini adalah kemenangan besar menuju kedaulatan. Namun bagi bangsa Palestina, ini adalah dokumen yang memberikan tanah yang bukan milik Inggris kepada pihak ketiga tanpa persetujuan penduduk asli.
Hingga saat ini, akar dari konflik Israel-Palestina bermuara pada keputusan yang diambil di kantor luar negeri Inggris lebih dari satu abad yang lalu.







