Monumen Nasional (Monas) berdiri tegak di jantung Jakarta sebagai simbol kemerdekaan dan kebanggaan bangsa Indonesia. Namun, di balik kemilau “Lidah Api” di puncaknya, tersimpan kisah heroik seorang pria asal Serambi Mekkah, Teuku Markam. Beliau adalah pengusaha yang mewakafkan sebagian besar kekayaannya demi marwah bangsa pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno.
Profil Lengkap Teuku Markam

Teuku Markam lahir pada tahun 1924 di Seunuddon, Aceh Utara. Ia berasal dari keluarga bangsawan (Teuku), namun nasib tidak memanjakannya. Di usia 9 tahun, ia sudah menjadi yatim piatu. Markam kemudian dibesarkan oleh kakak perempuannya, Cut Nyak Putroe.
Keterbatasan ekonomi di masa kecil tidak membuatnya menyerah. Semangat juang masyarakat Aceh yang antipati terhadap penjajah Belanda tertanam kuat dalam dirinya. Hal inilah yang membentuk karakter Markam menjadi sosok yang tangguh, mandiri, dan nasionalis.
Karier Militer Teuku Markam

Sebelum dikenal sebagai taipan, Markam adalah seorang tentara. Ia bergabung dengan militer di Medan dan terlibat aktif dalam perang mempertahankan kemerdekaan.
-
Pangkat Terakhir: Kapten.
-
Peran: Ia menjadi penghubung penting bagi pergerakan pejuang di Sumatera.
-
Utusan ke Jakarta: Keberanian dan kecerdasannya membuat ia diutus untuk bertemu dengan pimpinan pusat di Jakarta, yang kemudian membukakan jalan bagi karier bisnisnya atas restu Bung Karno.
Puncak Kejayaan Ekonomi: PT Karkam
Setelah keluar dari militer, Markam mendirikan PT Karkam (Kulit Aceh Raya Kapten Markam). Perusahaan ini bukanlah bisnis biasa; PT Karkam dipercaya oleh negara untuk mengelola komoditas ekspor-impor yang krusial bagi devisa negara.
Markam berhasil memonopoli perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk dikirim ke luar negeri. Kekayaannya melesat tajam, menjadikannya salah satu orang terkaya di Indonesia pada dekade 1960-an. Namun, kekayaan itu tidak ia simpan sendiri. Ia dikenal sebagai pendana utama berbagai proyek mercusuar Bung Karno yang saat itu sedang membangun identitas nasional.
Diplomasi Emas: Kontribusi untuk Monas

Visi Soekarno untuk membangun Monas membutuhkan dana dan material yang luar biasa mahal. Ketika lidah api setinggi 14 meter itu direncanakan untuk dilapisi emas, Teuku Markam mengambil peran utama.
-
Sumbangan Utama: Dari total 38 kg emas yang digunakan untuk melapisi lidah api Monas saat peresmiannya, Teuku Markam menyumbangkan 28 kilogram.
-
Nilai Filosofis: Bagi Markam, sumbangan ini bukan pamer kekayaan, melainkan bentuk syukur atas kemerdekaan dan dukungannya terhadap kepemimpinan Soekarno.
-
Bantuan Lainnya: Selain emas, ia juga berperan dalam pendanaan pembangunan Jalan Gatot Subroto, Senayan (GBK), serta pengadaan pesawat untuk maskapai nasional pertama.
Tragedi Politik: Fitnah dan Penjara
Roda nasib berputar setelah peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Kedekatan Markam dengan Soekarno yang awalnya adalah aset, berubah menjadi petaka di era Orde Baru.
-
Tuduhan Tanpa Bukti: Markam dituduh sebagai anggota PKI atau setidaknya simpatisan yang mendanai gerakan kiri. Ia juga dituduh melakukan korupsi dan memperkaya diri melalui kedekatannya dengan rezim lama.
-
Pemenjaraan: Tanpa proses pengadilan yang transparan, Teuku Markam dijebloskan ke penjara selama sekitar 8 tahun (berpindah-pindah dari Salemba hingga Budi Utomo).
-
Penyitaan Aset: Negara menyita seluruh kekayaan PT Karkam dan aset pribadi Markam. Perusahaannya kemudian dilebur menjadi cikal bakal beberapa BUMN di masa depan.
Masa Tua dan Rehabilitasi Nama Baik
Setelah dibebaskan dari penjara pada era 1970-an, Teuku Markam mencoba kembali ke dunia bisnis melalui PT Marjaya. Meskipun tidak bisa kembali ke puncak kejayaannya seperti dulu, ia tetap aktif berkontribusi bagi tanah kelahirannya di Aceh, termasuk dalam pembangunan infrastruktur jalan di Aceh Utara.
Teuku Markam wafat pada 1 Agustus 1985. Hingga akhir hayatnya, ia tidak pernah mendapatkan kompensasi atau pengembalian aset dari negara atas apa yang telah disita. Namun, sejarah mencatat namanya sebagai pemberi “mahkota” pada simbol tertinggi ibu kota Indonesia.







