Tragedi besar sering kali mengubah jalannya sejarah secara permanen. Dalam dunia eksplorasi antariksa, tidak ada yang lebih membekas daripada Tragedi Pesawat Ulang-Alik Challenger. Namun, di balik awan duka internasional tersebut, tersimpan sebuah catatan sejarah penting bagi Indonesia yang jarang diketahui banyak orang: mimpi seorang ilmuwan perempuan yang hampir mencatatkan nama Indonesia di bintang-bintang.
Detik-Detik Tragedi Challenger 1986
Pada tanggal 28 Januari 1986, dunia terpaku pada layar televisi. Pesawat ulang-alik Challenger baru saja lepas landas dari Cape Canaveral. Namun, hanya 73 detik setelah meluncur, pesawat tersebut meledak di ketinggian 15 km, menewaskan tujuh astronot di dalamnya di hadapan jutaan saksi mata.
Penyebab Teknis: Masalah Kecil Berdampak Fatal
Investigasi pasca-kejadian menemukan bahwa penyebab ledakan bukanlah kerusakan mesin besar, melainkan komponen kecil bernama O-ring.
-
O-ring: Komponen karet berbentuk cincin yang berfungsi menyambung roket pendorong.
-
Faktor Suhu: Suhu ekstrem yang sangat dingin pada malam sebelum peluncuran membuat karet O-ring menjadi getas dan kehilangan elastisitasnya.
-
Kebocoran: Akibat getasnya komponen tersebut, terjadi kebocoran yang memicu semburan api langsung ke tangki bahan bakar utama.
Dr. Pratiwi Sudarmono: Calon Astronot Pertama Indonesia
Di belahan bumi lain, seorang ilmuwan perempuan asal Indonesia tengah bersiap mengukir sejarah. Dr. Pratiwi Sudarmono, seorang ahli mikrobiologi dari Universitas Indonesia, telah berhasil mencatatkan prestasi luar biasa.
Ia berhasil mengalahkan 207 kandidat astronot dari berbagai negara dan terpilih sebagai Payload Specialist untuk misi STS-61H. Dr. Pratiwi dijadwalkan terbang menggunakan pesawat ulang-alik Columbia pada Juni 1986.
Misi Utama STS-61H

Rencana penerbangan Dr. Pratiwi memiliki dua agenda besar bagi Indonesia:
-
Mengawal peluncuran satelit Palapa B-3.
-
Melakukan berbagai eksperimen ilmiah mikrobiologi di gravitasi nol.
Jika misi ini berhasil, Dr. Pratiwi Sudarmono akan tercatat sebagai perempuan Asia pertama yang pergi ke luar angkasa.
Dampak Tragedi Terhadap Mimpi Antariksa Indonesia
Pasca-meledaknya Challenger, NASA mengambil keputusan drastis dengan menghentikan seluruh program pesawat ulang-alik selama hampir tiga tahun untuk evaluasi keselamatan total. Akibatnya, misi Columbia STS-61H yang menjadi tiket Dr. Pratiwi ke luar angkasa dibatalkan secara permanen.
Meski gagal meluncur, Dr. Pratiwi tetap melanjutkan dedikasinya dengan menjalankan penelitian di fasilitas NASA dari bumi. Hingga saat ini, Indonesia masih menantikan sosok astronot berikutnya yang benar-benar akan menembus atmosfer bumi.

